Keterangan Poto: Terlihat ratusan massa turun ke jalan, menggelar unjuk rasa di Gedung DPRD Kota  Batam, Kamis (22/1/2026). (foto/ist)

Keterangan Poto: Terlihat ratusan massa turun ke jalan, menggelar unjuk rasa di Gedung DPRD Kota Batam, Kamis (22/1/2026). (foto/ist)

Krisis Air di Batam Memanas: Warga Mandikan Jenazah Pakai Air Galon, PT Moya Didesak Mundur

Muhammad Ikhsan

Editor Muhammad Ikhsan

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:06 WIB

Keterangan Poto: Terlihat ratusan massa turun ke jalan, menggelar unjuk rasa di Gedung DPRD Kota  Batam, Kamis (22/1/2026). (foto/ist)

Keterangan Poto: Terlihat ratusan massa turun ke jalan, menggelar unjuk rasa di Gedung DPRD Kota Batam, Kamis (22/1/2026). (foto/ist)

Batam, Sinarkepri.co.id – Awal tahun 2026 menjadi momentum kelam bagi warga Kelurahan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam. Terlihat ratusan massa turun ke jalan, menggelar unjuk rasa di Gedung DPRD Kota  Batam, Kamis (22/1/2026). Mereka menuntut hak dasar mereka yakni air bersih.

Krisis air yang berkepanjangan kini bukan sekadar masalah teknis, melainkan sudah menjadi isu kemanusiaan yang memicu amarah besar warga Tanjung Sengkuang.

Koordinator Warga Tanjung Sengkuang, Samsudin, mengatakan aksi ini merupakan bentuk kekecewaan warga karena persoalan air tak kunjung tuntas meski telah lama disuarakan.

"Ini kebutuhan mendesak, kebutuhan primer! Kalau warga tidak punya beras, mungkin masih bisa diam cari pengganti ubi atau jagung. Tetapi air bersih tidak bisa tawar-menawar!" tegas Amin warga RT 01/RW 04 Tanjung Sengkuang.

Puncak kemarahan warga dipicu oleh sebuah realitas memilukan yang terjadi di lingkungan Tanjung Sengkuang. Amin menceritakan pengalaman pahit salah satu tetangganya yang sedang berduka namun terhambat masalah air.

Lantaran aliran air mati total, keluarga yang baru saja kehilangan anggota keluarganya terpaksa merogoh kocek ekstra untuk membeli 16 galon air mineral untuk memandikan jenazah.

"Bayangkan, memandikan jenazah sampai harus beli 16 galon air. Ini sudah keterlaluan!" cerita Amin dengan raut wajah penuh kekecewaan.

Warga secara terang-terangan menunjuk hidung PT Moya selaku pengelola air bersih saat ini. Mereka menilai performa perusahaan tersebut jauh dari kata layak dan mendesak pemerintah untuk segera melakukan evaluasi total.

Penderitaan warga Tanjung Sengkuang sudah berlangsung hampir satu tahun tanpa solusi konkret. Warga meminta PT Moya mundur jika tidak sanggup mengelola krisis.

Warga juga mendesak agar pengelolaan air dikembalikan ke PT Adhya Tirta Batam (ATB) yang dinilai lebih responsif dalam menangani gangguan.

"Kalau PT Moya tidak sanggup lebih baik mundur, jangan berlagak mampu. Kembalikan lagi ke ATB, dahulu tidak ada masalah berlarut-larut seperti ini," tutupnya.

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Kota Batam, Ruslan Sinaga, menegaskan aspirasi warga akan ditindaklanjuti secara serius dan segera dibahas di internal DPRD sebelum disampaikan kepada kepala daerah.

"Pertama, seluruh anggota dewan harus segera turun mengatasi masalah kebutuhan air bersih. Jika air di rumah warga mati, maka kantor perwakilan kami pun harus merasakan hal yang sama. Ini supaya adil, agar dewan bisa merasakan betapa susahnya hidup tanpa air bersih," ujar Ruslan di hadapan warga.

Bagaimanapun juga kita harus menyadari bahwa air ini sangat penting dan memang kondisi sekarang ini memang lagi dibenahi, agar air ini tidak mengalami kemacetan seperti yang saat ini, tutup Ruslan. (***)

 

 

Editor: Ikhsan