Keterangan Poto: Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kabupaten Karimun, Muhammad Firmansyah, usai menghadiri rapat paripurna peringatan hari jadi di Gedung Balai Rong Sri, Sekretariat DPRD Karimun. (foto: int)

Keterangan Poto: Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kabupaten Karimun, Muhammad Firmansyah, usai menghadiri rapat paripurna peringatan hari jadi di Gedung Balai Rong Sri, Sekretariat DPRD Karimun. (foto: int)

HUT ke-198 Kabupaten Karimun: Momentum Memperkuat Identitas dan Budaya Melayu

Muhammad Ikhsan

Editor Muhammad Ikhsan

Sabtu, 2 Mei 2026 | 06:42 WIB

Keterangan Poto: Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kabupaten Karimun, Muhammad Firmansyah, usai menghadiri rapat paripurna peringatan hari jadi di Gedung Balai Rong Sri, Sekretariat DPRD Karimun. (foto: int)

Keterangan Poto: Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kabupaten Karimun, Muhammad Firmansyah, usai menghadiri rapat paripurna peringatan hari jadi di Gedung Balai Rong Sri, Sekretariat DPRD Karimun. (foto: int)

Karimun, Sinarkepri.co.id – 1 Mei 2026 peringatan Hari Jadi Kabupaten Karimun yang ke-198 menjadi tonggak penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk kembali menengok akar budaya.

Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Karimun, Muhammad Firmansyah, menekankan bahwa di tengah arus globalisasi, pelestarian tradisi Melayu harus menjadi prioritas utama.

Hal tersebut disampaikannya usai menghadiri Rapat Paripurna Peringatan Hari Jadi Kabupaten Karimun ke-198 di Gedung Balai Rong Sri, Sekretariat DPRD Karimun, Jumat (1/5/2026).

"Penetapan 1 Mei 1828 sebagai Hari Jadi Karimun bukan sekadar seremoni rutin. Ini adalah pengingat pentingnya memahami sejarah daerah serta menjaga identitas budaya yang mulai tergerus zaman," ujar Firmansyah.

Menurut Firmansyah, penguatan identitas ini harus dimulai sejak dini. Ia mendorong agar materi terkait Budaya Melayu diintegrasikan secara mendalam ke dalam muatan lokal di jenjang pendidikan.

Ia juga mengapresiasi kebijakan penggunaan bahasa Melayu setiap hari Jumat di sekolah-sekolah sebagai langkah awal yang positif. "Ini menjadi titik balik bagi kita semua untuk memperkuat komitmen dalam melestarikan tradisi," tambahnya.

Merespons dorongan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karimun, Grendy Regel Tuerah, menyatakan bahwa pihaknya tengah serius mengembangkan materi Budaya Melayu untuk kurikulum sekolah.

"Muatan lokal sebenarnya sudah ada, namun saat ini kami terus melakukan kajian dan pengumpulan materi yang lebih komprehensif, khususnya terkait tradisi dan Budaya Melayu di Kepulauan Riau," jelas Grendy.

Grendy juga mengungkapkan rencana strategis untuk membukukan sejarah Hari Jadi Karimun. Tujuannya agar sejarah tersebut memiliki literatur resmi yang bisa menjadi bahan ajar bagi para siswa.

"Kami berharap sejarah Hari Jadi Karimun ini dapat dibukukan, sehingga menambah wawasan siswa tentang daerahnya sendiri," tuturnya.

Peringatan tahun ini diharapkan tidak hanya berhenti pada perayaan, tetapi menjadi langkah nyata dalam memastikan warisan Budaya Melayu tetap hidup, relevan, dan dikenal oleh generasi mendatang di Bumi Berazam. (***)

 

 

Editor: Ikhsan