Tanjungpinang, Sinarkepri.co.id – Pulau Penyengat semakin memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata strategis berbasis sejarah, budaya, dan religi di Provinsi Kepulauan Riau. Dianggap sebagai "miniatur" kejayaan peradaban Melayu-Islam, pulau ini kini menjadi motor penggerak ekonomi daerah melalui pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.
Nilai historis Pulau Penyengat tidak diragukan lagi. Di sinilah tata bahasa Melayu diformulasikan oleh tokoh besar Raja Ali Haji, yang kemudian menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia.
Sebagai kawasan Cagar Budaya Nasional, pulau ini juga diproyeksikan menjadi destinasi wisata halal unggulan yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pengembangan Pulau Penyengat berjalan selaras dengan mandat RPJMN 2024–2029 yang menitikberatkan pada pariwisata berkualitas dengan pendekatan regeneratif. Selain itu, program ini didukung oleh kebijakan Presiden Prabowo Subianto melalui:
Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Rapi, dan Indah), Gerakan Wisata Bersih (GWB) untuk menjamin kenyamanan pengunjung.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, terus menunjukkan komitmen nyata dalam menata wajah Pulau Penyengat. Berbagai pembangunan telah dilakukan, mulai dari penataan jalan kawasan, perbaikan drainase, pemasangan lampu penerangan, penataan objek wisata, hingga penyediaan fasilitas umum seperti toilet dan sistem pengelolaan sampah.
"Kami berkomitmen untuk terus melanjutkan pembangunan di Pulau Penyengat. Ke depan, fokus kami adalah pembangunan Monumen Bahasa, peningkatan penerangan jalan, serta revitalisasi Balai Adat agar menjadi daya tarik baru," ujar Gubernur Ansar Ahmad.
Pemerintah Provinsi Kepri berharap Pulau Penyengat tidak hanya menjadi objek wisata visual, tetapi juga berfungsi sebagai pusat edukasi. Dengan kekayaan nilai religius dan sejarahnya, pulau ini diharapkan mampu memperkenalkan kejayaan peradaban Melayu-Islam kepada generasi masa kini dan mendatang, memastikan warisan leluhur tetap hidup di tengah modernisasi. (***)
Editor: Ikhsan